Paket Tour Terbaik Liburan Wisata Bali

Jasa Pemandu Wisata dan Paket Liburan Menarik di Pulau Bali

Bali - Pulau Dewata Seribu Pura (Candi) Berserta Sejarah

Pulau Dewata Seribu Pura
Pulau Dewata Seribu Pura

Bali...Pulau tempatnya para dewa dengan pesona kecantikannya yang luar biasa telah mampu memikat siapa saja yang mengunjungi tanah ini.

Selain keindahan pemandangan alam yang dimiliki, seperti: Pegunungan yang hijau membentang dari timur ke barat,

Danaunya yang mempesona, Terasering sawahnya yang begitu menggoda,

Deburan ombak pantainya yang juga menantang para peselancar dari seluruh dunia untuk datang mencobanya,

Keramahan penduduk lokal yang sangat bersahabat, juga Keunikan budaya yang dimiliki,

telah menjadikan pulau seribu candi ini menjadi incaran para traveler dari seluruh dunia.

Namun bagi anda yang memang belum pernah berkunjung ke pulau Bali, didalam artikel ini telah kami sajikan

informasi menarik bagi anda,

Sehingga anda nantinya akan mengetahui selayang pandang mengenai: "Apa dan Bagaimana tentang Bali" yang sesungguhnya.

Karena selain menyimpan semua keindahan dan keunikan yang disebutkan diatas,

Pulau Bali juga mempunyai latar belakang sejarah yang begitu panjang.

Untuk mengetahui Bali secara menyeluruh, ada baiknya kita mundur satu langkah ke belakang agar bisa tahu

bagaimana sejarah dari pulau mungil ini sebenarnya.

Sebelum lanjut,

Sebaiknya anda tahu dulu apa pengertian dari sejarah itu sendiri,

yang: "Merupakan segala sesuatu (rentetan kejadian / peristiwa) yang telah terjadi pada masa lampau (masa lalu).

Jadi mengenai "Sejarah Bali" itu sendiri pada intinya dapat dibagi menjadi tiga (3) periode, yaitu:

Sejarah Bali Dikelompokkan Menjadi Tiga (3) Periode:

  • PERIODE ZAMAN BALI KUNO
  • PERIODE ZAMAN GELGEL KLUNGKUNG (PENGARUH MAJAPAHIT)
  • PERIODE MASA KOLONIAL & KEMERDEKAAN

PERIODE ZAMAN BALI KUNO

Seperti yang anda ketahui...Bali merupakan sebuah pulau kecil,

dimana sejak tahun 1958 (menurut Undang-undang Ri no. 64. Th 1958) merupakan daerah provinsi tersendiri di kepulauan Indonesia.

Yang dulu termasuk daerah kepulauan Sunda Kecil (Lesser Soenda Islands).

Secara geografis merupakan satu wilayah di bagian timur Indonesia,

namun secara kebudayaan juga menurut garis Wallace (Wallace's Line) melihat ciri-ciri flora dan fauna didalamnya.

Diduga bahwa Bali telah berhubungan keluar (terutama dengan India dan Cina), sejak awal abad Masehi.

Beberapa situs arkeologi yang menunjukkan kemungkinan tersebut, seperti:

  • Situs Gilimanuk
  • Situs Sembiran, dan
  • Situs Blanjong

Hal tersebut sangat mungkin karena pada masa itu telah ada hubungan dagang antara India, Cina dengan negeri-negeri lain terutama di Asia Tenggara.

Dengan barang dagangan seperti: Rempah-rempah, Kayu cendana yang sangat laku di pasaran untuk dijadikan bahan obat-obatan dan upacara keagamaan.

Selama abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi "Kerajaan Sriwijaya (Pulau Sumatera)" telah mengontrol jalannya perdagangan di Nusantara, bahkan sampai ke Selat Malaka.

Kemudian kekuatan kontrol itu beralih ke pulau Jawa, yang terpusat pada "Kerajaan Majapahit" (abad ke-12 hingga ke-14).

Disinilah Majapahit menunjukkan kebesarannya.

Sedangkan sejak abad ke-9, Bali menunjukkan masa sejarah yang lebih jelas.

Catatan prasasti pertama yang memakai "Bahasa Bali Kuno", adalah "Prasasti Sukawana A1 yang berangka tahun (882 Masehi atau 804 Caka),

menyebut nama tempat, yaitu: "Singhamandawa" namun tidak menyebut nama raja.

Rupanya Singhamandawa merupakan sebuah tempat (Istana Raja), tetapi di mana persisnya tempat tersebut masih belum jelas.

Bahkan sampai tahun 911 Masehi, masih muncul beberapa prasasti yang tidak menyebut nama raja.

Selain itu,

berita lainnya juga menyebutkan pula mengenai istilah "Banten" yang mempunyai kata sinonim dengan "Bali", muncul di dalam "Prasasti Kubukubu (Jawa Timur) dengan angka tahun 905 Masehi.

Prasasti ini dikeluarkan oleh raja yang bernama "Dyah Balitung" (B. Kempers 35, 37).

Sangat mungkin hubungan budaya atau agama antara Jawa dan Bali sudah ada pada masa tersebut.

Disamping adanya keterangan atau tradisi lokal Bali yang menjelaskan mengenai turunnya Betara Hyang Putranjaya, Rsi Markandeya ke pulau Bali (yang membangun Pura Besakih),

Betara Hyang Gnijaya di Lempuyang, dapat memberikan petunjuk pula tentang adanya hubungan antara Jawa dan Bali.

Dan pertama kali nama raja muncul dalam "Prasasti Blanjong (Sanur)" berangka tahun 914 Masehi,

Nama atau titel raja tersebut, "Adipatih (Raja)" - "Sri Kesari Warma (Dewa)" dan nama istana disebut, "Singhadwala".

Dalam legenda tradisi lokal muncul nama "Sri Wira Dalem Kesari", yang disebut sebagai pembangun banyak pelinggih di Pura Besakih.

Diduga, nama terakhir ini identik dengan nama Sri Kesari Warmadewa dalam prasasti Blanjong.

Hal itu tampak diakui secara formal, sehingga balai pertemuan (wantilan) yang kini dibangun di Besakih diberi nama "Kesari Warmadewa Mandapa".

Selanjutnya selama tahun 913 - 933 Masehi, muncul catatan2 prasasti dengan nama raja "Sang Ratu Sri Ugrasena" (mungkin dari keluarga yang lain).

Sekitar 20 tahunan setelah masa Ugrasena, muncul kembali nama-nama raja dengan ikutan nama Warmadewa, seperti:

  • Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmadewa (955 Masehi)
  • Sang Ratu Sri Chandrabhayasingha Warmadewa (960 Masehi) di desa Manukaya, pendiri Pura Tirta Empul.

Sangat mungkin raja-raja ini merupakan turunan yang sama, atau dinasti dari Sri Kesari Warmadewa (B.Kempers, 1991:35-36).

Satu masa yang sangat menonjol pengaruhnya atas dinamika masyarakat Bali yaitu periode tahun 989 - 1001 Masehi,

dengan munculnya beberapa prasasti, atas nama (suami - istri) yaitu: "Sri Gunapriya Dharmapatni" & "Dharma Udayana Warmadewa".

Raja putri Sri Gunapriya Dharmapatni (permaisuri) wafat terlebih dahulu dan abunya didarmakan di Buruan (dekat desa Kutri - Gianyar).

Disana beliau diabadikan berupa patung besar dalam wujud "Betari Dhurga",

merupakan simbol betapa cara Betari Durga membunuh raksasa yang berada di dalam badan kerbau.

Raja sendiri, Dharma Udayana Warmadewa disebut wafat di Banyu Wka (dimana itu, masih belum jelas).

Diduga wafat setelah tahun 1011 Masehi (tahun 933 Caka), sebab beliau masih memerintah pada tahun 1011 Masehi.

(R. Goris) berpendapat, bahwa boleh jadi Sri Gunapriya itu berkaitan dengan cerita "Calon Arang" yang populer di Bali.

Dalam cerita disebutkan, seorang puteri yang dituduh oleh suaminya telah melakukan ilmu hitam (sihir),

dan menjadikan banyak rakyat yang binasa.

Ketika puteri itu akan dibuang ia sangat marah pada tuduhan itu.

Setelah dibuang baru benar2 dia melakukan pekerjaan itu (Goris 1948: 7).

Dalam cerita Calon Arang peranan seorang pendeta, "Mpu Beradah" tampak menonjol, menunjukkan bahwa beliau juga hidup pada zaman itu.

Dan didalam tradisi Bali, Mpu Beradah dimengerti sebagai unsur dari "Panca Pandita" yang datang ke Bali,

guna memberikan pencerahan agama kepada masyarakat Bali.

Dalam hubungan itu, "Mpu Kuturan" adalah orang yang dipandang sebagai perintis merumuskan sistem kemasyarakatan di pulau Bali.

Perlu dicatat:

Bahwa prasasti-prasasti periode 882 - 993 Masehi atau 804 - 915 Caka, semua bertuliskan dalam "Bahasa Bali Kuno",

tetapi setelah itu, mulai tertulis dalam "Bahasa Jawa Kuno".

Disini tampak besar pengaruh raja puteri Gunapriya Dharmapatni (putri Sri Makutawangsa Wardhana dari Jawa Timur).

Ketika di Jawa, puteri itu bernama "Mahendradattha".

Demikian pengaruh tradisi Jawa semakin nampak di Bali, yang juga berperan membuat hubungan antara Bali dan Jawa semakin dekat adalah,

dengan tampilnya "Erlangga (putra Dharma Udayana)", Menurut (R. Goris) dilahirkan tahun 991 Masehi (913 Caka).

Ketika berumur 16 tahun ia pergi ke Jawa dan mengambil istri di sana.

(Gora Sirikan) menyebut, bahwa kepergian Erlangga ke Jawa diikuti oleh Mpu Beradah pada tahun 1007 Masehi atau 929 Caka (kidung Pamancangah 117).

Erlangga dinobatkan menjadi raja (abhiseka ratu) di Jawa pada tahun 1019 Masehi (941 Caka) dan mangkat tahun 1049 Masehi.

Pada masa pemerintahannya, Erlangga pernah mencoba agar seorang puteranya dapat diangkat menjadi raja di pulau Bali, tetapi gagal.

Disini muncul pula peranan Mpu Beradah dan Mpu Kuturan (R. Goris 1948: 8).

Dapat dimengerti bahwa brahmana Beradah dan Kuturan sangat berperan di Bali pada abad ke-11,

bertepatan dengan masa pemerintahan "Raja Anak Wungsu (putra Dharma Udayana, adik Erlangga) yang memerintah tahun 1049 - 1077 Masehi atau 971 - 999 Caka.

Secara tradisi Mpu Kuturan dan Mpu Beradah dianggap bersaudara (kakak - adik).

Terakhir terkenal raja bernama "Bhatara Sri Asta - Asura Ratna Bhumi Banten", yang tercantum dalam prasasti tahun 1337 Masehi (1259 Caka).

Nama raja tersebut meski kurang lengkap juga muncul di "Pura Tegeh Koripan (di Bukit Penulisan)".

Disana terdapat patung besar berupa orang perempuan. Dibelakangnya ada tulisan, tetapi banyak yang rusak.

Yang dapat dibaca berbunyi: a stasura - ratnabumi..., dan tahun Caka juga hilang (R. Goris, 1948: 12).

Selain keterangan tertulis seperti tersebut di atas, mengenai masa, atau periode Bali Kuno, muncul pula banyak informasi dalam tradisi lokal berupa:

  • Babad
  • Usana
  • Pamamcangah dan yang lainnya.

Tentu dapat menjadi pertimbangan untuk memahami keadaan yang sebenarnya.

Meskipun belum sepenuhnya terang, namun beberapa tonggak sejarah penting dapat ditangkap dari paparan diatas, seperti:

Dibangunnya Pura Besakih, Peranan Mpu dan lainnya.

PERIODE ZAMAN GELGEL KLUNGKUNG (PENGARUH MAJAPAHIT)

Pada abad ke-14 khususnya periode 1328 Masehi - 1350 Masehi, yang berkuasa di Majapahit adalah raja perempuan yang bergelar "Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhana.

Setelah raja puteri wafat, pemerintahan dipegang oleh puteranya, yaitu "Hayam Wuruk" dengan gelar "Sri Rajasanegara (Sartono, 1977: 239).

Dalam pemerintahan raja dibantu oleh seorang patih terkemuka bernama, "Patih Gajah Mada", yang memiliki ambisi kuat untuk dapat menyatukan seluruh wilayah di Nusantara.

Maka berbagai penaklukan dilakukan untuk cita2 tersebut.

Pada periode Tribhuwana, yakni tahun 1343 Masehi, sebuah ekspedisi dari Majapahit datang ke Bali.

Disebut pimpinan pasukan Majapahit adalah Patih Gajah Mada dan Arya Damar.

Mereka berhasil menaklukan kekuatan raja Bali, meskipun pada awalnya sangat berat menghadapi kekuatan Bali yang berani mengadakan perlawanan terhadap pasukan Majapahit.

Menurut Pamancangah, bahwa raja Bali yang dikalahkan itu berkedudukan di Bedahulu, akan tetapi (R. Goris) menduga bahwa raja Bali yang ditaklukkan Majapahit adalah, Sri Asta-Asura Ratna Bhumi Banten (Goris, 1948: 12).

Untuk pertama kali pada awal kekuasaan Majapahit di Bali, istana raja dibangun di Samprangan (Gianyar) dengan raja yang bernama, "Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan" tahun 1350 Masehi.

Dalam pemerintahan di Samprangan, Sri Aji Dalem didampingi oleh beberapa orang rohaniawan (brahmana) yang dikenal sebagai "Bhujangga" (kidung Pamancangah, 1957).

Akibat adanya perpecahan di Samprangan, maka istana dipindahkan ke Gelgel pada sekitar tahun 1380 Masehi.

Kerajaan Gelgel mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan "Dalem Waturenggong" (1460 Masehi - 1550 Masehi).

Pada periode tersebut, muncul seorang brahmana yang sangat terkenal bernama "Danghyang Nirartha (Pedanda Sakti Bawu Rauh)" datang dari Majapahit, dan

mendapat tempat yang terhormat dalam kerajaan.

Disana Danghyang Nirartha berfungsi sebagai pembina keagamaan, atau "Bhagawanta Kerajaan".

Diduga Danghyang Nirartha datang ke pulau Bali, pada sekitar tahun 1550 Masehi.

Pura Besakih dijadikan pusat pemujaan keagamaan yang terbesar oleh kerajaan Gelgel.

Pengaruh kekuasaan Gelgel juga meluas pada masa itu.

Beberapa kerajaan lain yang dapat dipengaruhi antara lain:

  • Blambangan
  • Lombok
  • Sumbawa

Disebut bahwa pada abad ke-15 gugusan kepulauan di bagian timur Nusantara sudah masuk ke dalam jalur perdagangan Laut Jawa yang ramai (K.R.Hall, "The opening of the Malay World", 1985).

Dalam hubungan itu, Bali adalah daerah yang terletak di jalur perdagangan dunia yang ramai.

Oleh karena itu, Bali juga mendapatkan imbas dari adanya perhubungan dunia yang semakin ramai.

Kemudian keadaan merosot muncul sejak masa raja2 penggantinya.

Pada tahun 1624 Masehi, tampak ada hubungan dengan Makasar (mungkin membuat perjanjian untuk tidak saling menyerang).

Masa itu, pemerintahan dipegang oleh "Dalem Seganing".

Pengaruh Gelgel menjadi sangat jatuh ketika pemerintahan di bawah "Dalem Dimade" (1665 Masehi - 1686 Masehi), pengganti Dalem Seganing.

Terutama kekacauan terjadi karena adanya usaha2 perebutan kekuasaan di pertengahan abad ke-17.

Pada masa itu terutama antara tahun 1650 Masehi dan 1686 Masehi, selalu muncul keributan di Gelgel.

Sebelumnya, Buleleng muncul menjadi kerajaan yang bersaing di Bali Utara (awal abad ke-17).

Pada masa itu, patih kerajaan I Gusti Agung Maruti ingin merebut kekuasaan dan memberontak raja.

Kekacauan memuncak pada tahun 1686 Masehi, karena I Gusti Agung Maruti dapat merebut kekuasaan raja di Gelgel, dan keraton dipindahkan ke Klungkung (Utrecht, 1952, 96-97).

Dengan dibangunnya pusat kekuasaan di Klungkung, maka dapat disebut bahwa sejak akhir abad ke-17, kekuasaan Bali menjadi terpecah ke dalam beberapa kerajaan (8 kerajaan kecil).

Setelah Buleleng besar di bawah pemerintahan "I Gusti Ngurah Panji Sakti", kemudian muncul Karangasem menjadi besar pengaruhnya di bawah pimpinan "I Gusti Gde Ngurah Karangasem".

Selama abad ke-18 - abad ke-19, Karangasem meluaskan pengaruhnya ke segala arah, mempengaruhi raja2 lainnya, seperti:

  • Lombok
  • Buleleng

Pada masa itu muncul kerajaan2 kecil di Bali yang merdeka satu sama lainnya, meskipun mengakui Klungkung sebagai yang tertinggi (turunan langsung dari Majapahit).

BALI MASA KOLONIAL dan KEMERDEKAAN

Masa ini dapat disebut Bali memasuki masa peralihan menuju zaman modern.

Hubungan Bali dengan dunia luar (Eropa) sudah terjadi sejak zaman Gelgel Klungkung.

Pada bagian awal abad ke-19, para pejabat kolinial sudah datang ke Bali, terutama pada tahun 1827 Masehi ingin membuat perjanjian untuk mendapatkan calon2 tentara (ingat di Jawa ada Perang Diponogoro).

Akan tetapi kontak yang semakin serius muncul sejak pertengahan abad ke-19.

Berbagai perjanjian oleh pemerintah Belanda dibuat dengan raja-raja Bali dalam rangka mengikat hubungan ketundukan mereka kepada pemerintah kolonial Belanda.

Pada masa itu, raja-raja Bali memiliki konsep pertahanan wilayah yang disebut, "Hukum Tawan Karang".

Untuk menembus pertahanan hukum itu, pemerintah kolonial berusaha keras merombaknya, sehingga Belanda menjadi bebas untuk berkuasa di daerah Bali.

Demikian perjanjian-perjanjian yang dibuat seperti:

  • Kontrak dengan Klungkung (tahun 1841 Masehi)
  • Kontrak dengan Karangasem (tahun 1841, 1843 Masehi)
  • Kontrak dengan Buleleng (tahun 1846 Masehi) dan lainnya.

Perjanjian-perjanjian itu hampir semua telah membawa akibat jatuhnya raja-raja Bali di bawah kekuasaan Belanda.

Perang besar "Puputan" tidak dapat dihindarkan terjadi di Bali, seperti:

  • Perang Jagaraga (tahun 1848 Masehi - 1849 Masehi).
  • Perang Puputan Badung (tahun 1906 Masehi).
  • Perang Klungkung (tahun 1908 Masehi)

Semua itu membawa korban dan perubahan besar bagi kehidupan masyarakat Bali, baik pada saat maupun sesudah berkuasanya pemerintahan Belanda.

Untuk pertama kali pemerintah kolonial Belanda menempatkan pejabat "Kontroler" di Singaraja (tahun 1855 Masehi).

Karena itu administrasi Belanda diterapkan di sana.

Kemudian tahun 1882 Masehi, kota Singaraja juga ditetapkan menjadi Ibu Kota Keresidenan Bali dan Lombok.

Membuat Singaraja semakin berkembang ke arah perubahan menuju modernisasi.

Sistem administrasi moderen dimulai dari Bali Utara.

Baru pada awal abad ke-20 (setelah perang puputan), Bali Selatan benar2 dikuasai pemerintah Hindia Belanda, dan karenanya berbagai perubahan terjadi didalamnya.

Masa kemerdekaan Indonesia untuk Bali, juga membawa resiko berubahnya berbagai tatanan kemasyarakatan.

Setelah perang besar "Puputan Margarana" pada tahun 1946 Masehi, Bali memasuki masa baru yang melepaskan diri dari segala belenggu keterkekangan,

baik karena sistem kolonial maupun karena sistem feodal.

Wacana hidup secara demokrasi berdasarkan Pancasila menjadi renungan seluruh rakyat untuk dapat dilaksanakan.

Kepala desa, kepala daerah tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah kolonial, tetapi diangkat berdasarkan sistem pemilihan yang dikehendaki rakyat.

GAMBARAN UMUM DAERAH BALI

  • KEADAAN ALAM
  • LETAK WILAYAH & KEADAAN GEOGRAFIS
  • IKLIM
  • FLORA & FAUNA
  • PENDUDUK & IDENTITAS

KEADAAN ALAM

Bali sebagai pusat "Pariwisata Indonesia Bagian Tengah" dan sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata yang terkemuka di Dunia,

memiliki berbagai potensi yang menunjang pertumbuhan kepariwisataan.

Potensi-potensi tersebut mencangkup:

  • Potensi Alam
  • Potensi Manusia
  • Potensi Kebudayaan

Keadaan alam dari pulau Bali menampakkan suatu panorama alam yang sangat indah, asri dan ideal.

Dengan keberadaan hutan tropis, danau yang tenang, gunung menghijau, sungai, terasering sawah, pantai yang berpasir putih dan hitam

dengan deburan ombaknya yang besar, serta keberadaan sunrise dan sunsetnya yang begitu menggoda.

Perpaduan alam, manusia dan kebudayaan Bali yang unik berlandaskan pada konsepsi keserasian dan keselarasan

telah mewujudkan satu kondisi estetika yang sangat ideal dan bermutu tinggi.

LETAK WILAYAH dan KEADAAN GEOGRAFIS

Provinsi Bali merupakan salah satu dari 34 buah provinsi di Indonesia,

Dan provinsi Bali terdiri dari :

  • Pulau Bali
  • Pulau Nusa Penida
  • Pulau Nusa Lembongan
  • Pulau Nusa Ceningan
  • Pulau Menjangan

Dimana secara geografis pulau Bali mempunyai luas wilayah 5.632.82 Km2.

Dengan jumlah penduduk: 3.890.757 jiwa

Dengan panjang dari utara hingga ke selatan sejauh 90 Km dan dari Timur ke Barat sejauh 140 Km.

Dan provinsi Bali juga terbagi menjadi 8 Kabupaten, 1 Kota madya, 57 Kecamatan, 716 Desa dan 4.297 Satuan Lingkungan Setempat

Adapun Kabupaten yang ada di Bali beserta Ibukotanya, yaitu:

  • Kabupaten Negara Ibu kota Jembrana
  • Kabupaten Tabanan Ibu kota Tabanan
  • Kabupaten Badung Ibu kota Mangupura
  • Kabupaten Gianyar Ibu kota Gianyar
  • Kabupaten Klungkung Ibu kota Semarapura
  • Kabupaten Bangli Ibu kota Bangli
  • Kabupaten Karangasem Ibu kota Amlapura
  • Kabupaten Buleleng Ibu kota Singaraja
  • Kota Madya Denpasar Ibu kota Denpasar

Untuk ketinggian dari masing2 Kabupaten beserta Danau juga Luasnya, sbb:

  • Kabupaten Jembrana ketinggian 12 Meter dari permukaan laut
  • Kabupaten Tabanan ketinggian 124 Meter dari permukaan laut (Dengan Luas Danau Beratan: 370 Hektar)
  • Kabupaten Badung ketinggian 25 Meter dari permukaan laut
  • Kabupaten Gianyar ketinggian 126 Meter dari permukaan laut
  • Kabupaten Klungkung ketinggian 93 Meter dari permukaan laut
  • Kabupaten Bangli ketinggian 425 Meter dari permukaan laut (Dengan Luas Danau Batur: 1.607.50 Hektar)
  • Kabupaten Karangasem ketinggian 102 Meter dari permukaan laut
  • Kabupaten Buleleng ketinggian 60 Meter dari permukaan laut (Dengan Luas Danau Buyan: 360 Hektar dan Danau Tamblingan: 110 Hektar)
  • Kotamadya Denpasar ketinggian 25 Meter dari permukaan laut

Sedangkan daerah Bali terletak antara 7 54 Derajat dan 8 3 derajat Lintang Selatan serta 114 25 Derajat dan 115 43 Derajat Bujur Timur.

Pulau Bali mempunyai letak wilayah yang sangat strategis, karena menghubungkan lalu-lintas darat dan laut antara Jawa dengan Nusa Tenggara.

Bali juga terletak antara Benua Asia dan Australia.

Secara geografis ditengah pulau Bali terbentang pegunungan memanjang dari barat hingga ke timur.

Diantara pegunungan tersebut, seperti:

KABUPATEN JEMBRANA dengan Gunung yang dimiliki, sbb:

  • Gunung Kelatakan dengan ketinggian 698 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Sangiang dengan ketinggian 1.004 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Merbuk dengan ketinggian 1.356 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Mesehe dengan ketinggian 1.300 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Ngandang dengan ketinggian 622 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Musi dengan ketinggian 1.215 Meter dari permukaan laut

KABUPATEN TABANAN dengan Gunung yang dimiliki, sbb:

  • Gunung Batukaru dengan ketinggian 2.276 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Sengjang dengan ketinggian 2.087 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Pohang dengan ketinggian 2.089 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Catur dengan ketinggian 2.098 Meter dari permukaan laut

KABUPATEN KLUNGKUNG dengan Gunung yang dimiliki, sbb:

  • Gunung Mundi dengan ketinggian 529 Meter dari permukaan laut

KABUPATEN BANGLI dengan Gunung yang dimiliki, sbb:

  • Gunung Batur dengan ketinggian 1.717 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Penulisan dengan ketinggian 1.745 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Abang dengan ketinggian 2.152 Meter dari permukaan laut

KABUPATEN KARANGASEM dengan Gunung yang dimiliki, sbb:

  • Gunung Agung dengan ketinggian 3.142 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Sidemen dengan ketinggian 826 Meter dari permukaan laut
  • GUnung Seraya dengan ketinggian 1.058 Meter dari permukaan laut

KABUPATEN BULELENG dengan Gunung yang dimiliki, sbb:

  • Gunung Prapat Agung dengan ketinggian 310 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Banyu Wedang dengan ketinggian 430 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Patas dengan ketinggian 1.414 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Lok Badung dengan ketinggian 1.028 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Kutul dengan ketinggian 842 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Lesong dengan ketinggian 1.860 Meter dari permukaan laut
  • Gunung Silang Jana dengan ketinggian 1.903 Meter dari permukaan laut

Dari sekian banyak pegunungan yang terdapat di pulau Bali, dimana

keberadaan dari Gunung Agung dan Gunung Batur merupakan Gunung berapi aktif, dan ke dua gunung tersebut telah meletus beberapa kali.

Jadi...sampai juga kita pada akhir dari penjelasan dari "Sejarah Bali",

Dengan kesimpulan, bahwa di dalam sejarahnya Bali telah mengalami suatu dinamika (perubahan),

selain memang terjadi pula keberlanjutan tradisi (warisan budaya) yang dipandang masih berguna.

Perubahan terutama terjadi cukup pesat sejak masa modern, dibawah pemerintahan kolonial, baik karena perubahan cara berpikir akibat semakin majunya pendidikan,

dan keadaan Bali nampak lebih mengikuti pola Indonesia secara keseluruhan didalam model-model pembangunannya,

meskipun dalam keinginannya mencoba untuk dapat tampil unik dengan semangat dan kebudayaannya yang dijiwai oleh Agama Hindu.

Pada masa sekarang Bali berada dalam lingkungan hubungan global yang semakin kompleks, mau tidak mau membawa bentuk-bentuk perubahan didalam kehidupan masyarakatnya.

Perubahan terjadi dalam nilai-nilai, cara berpikir, dan gaya hidup.

Hasilnya akan sangat tergantung bagaimana, dan sejauh mana masyarakat mampu memahami hakekat perubahan demi kelestarian dan kedamaian hidup manusia bersama lingkungannya.

Demikian yang bisa kami sampaikan untuk anda mengenai sejarah Bali, dan

Akhir kata, terima kasih karena telah berkunjung ke situs Sorga Bali Tours.

Bagikan: